SUBANG-Kelalaian orang tua terhadap pendidikan anak mengakibatkan tidak saja anak menjadi kurang perhatian, namun juga berakibat pada tindak penyimpangan seperti kekerasan pada anak. Jihan, bocah berusia 2 tahun yang ditinggal ibunya menjadi TKW ke Arab Saudi, kini harus terbaring di ruang Dahlian Kamar 8 kelas 3 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciereng Subang. Kuat dugaan, Jihan yang sebelumnya dinyatakan terserang demam diduga mengalami tindakan kekerasan dari pihak tertentu. Hal ini didasarkan, selama tiga hari ia di rawat di rumah sakit tak satu pun keluarga yang peduli pada kesehatannya. Jihan sendiri dibawa ke RSUD oleh tetangganya yang mengaku prihatin atas kondisi bocah tersebut.
Berdasarkan informasi, bocah kecil yang tinggal di Desa Sukamandi ini diasuh neneknya. Ibunya diketahui bekerja di luar negeri, sementara sang ayah sudah meninggal dunia. Dan sejak saat itu, ia tidak mendapat asuhan yang semestinya. “Dia dibawa ke sini juga karena ada tetangga yang tahu dia dibiarkan begitu saja dalam keadaan sakit panas,” kata Oom, ketua RT setempat yang mendampinginya Jihan seorang diri di RSUD.
Dikatakan Oom, pada mulanya ia juga sempat tidak tahu persis kondisi Jihan hingga mengalami sakit parah. Ini karena jarak rumahnya yang berjauhan dengan rumah Jihan. Namun setelah ada tetangga yang mengabarkan kondisi Jihan, akhirnya ia berinisiatif mengabarkan ke Kelurahan setempat hingga akhirnya ia dibawa ke rumah sakit. “Biayanya kita mengandalkan Jamkesmas,” ujarnya.
Setelah tahu bahwa Jihan sakit dan berinisiatif dibawa ke rumah sakit, tampaklah ada banyak luka di beberapa bagian tubuhnya seperti bekas luka penganiayaan. Hal tersebut ditambahkan beberapa kabar dari tetangga yang mengabarkan tindakan kekerasan tersebut terhadap Jihan. “Saya juga ini baru menduga gitu, ya sebab belum tahu persis persoalan keluarganya. Tapi kemungkinan ini mah persoalan ekonomi kang, sebab neneknya bekerja sebagai buruh dan mengasuh juga 3 anak lain, tapi ya masa sampai begini ya,” keluh Oom kepada Pasundan Ekspres.
Saat Pasundan Ekspres melihat kondisi Jihan, amatlah menyedihkan. Selang infus mengelantung ke tangannya. Mulutnya dengan pelan mengemut biskuit di tangannya. Tanpa bicara sedikit pun. Kaki sebelah kanan bengkak dan yang kiri luka-luka walau sudah mengering karena perawatan selama 3 hari di RSUD. Saat Pasundan Ekspres menanyakan adakah salah satu keluarga yang mengurunya, Oom mengatakan tak ada satu pun. Bahkan hanya untuk menjenguk ke rumah sakit. “Ya hanya kita (warga setempat) yang peduli. Nggak ada keluarganya sama sekali,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun Pasundan Ekspres, beberapa warga khawatir jika Jihan kembali akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya, termasuk trauma akibat tindakan penganiaayaan neneknya. Pihak RW yang juga ikut menunggu Jihan, selain RT setempat mengatakan, kalau Jihan rencananya ingin dititipkan ke Panti Asuhan karena kekhawatiran akan masa depannya. “Maunya sih lebih baik dia dititipkan ke panti. Ini juga inisiatif tetangga warga terdekat supaya ia agak jauh dari lingkungan yang pernah membuatnya menderita,” paparnya.
Saat itu beberapa warga mengunjungi Jihan, bahkan Kepala Lurah Sukamandi sendiri ikut mengurus urusan rumah sakitnya. Namun Jihan yang rencananya akan dibawa pulang kemarin harus bertahan terlebih dulu, karena ada beberapa luka yang belum sembuh dan membutuhkan perawatan.
Sementara beberapa pihak merekomendasikan Panti Asuhan Sosial yang ingin merawat dan mengasuh Jihan termasuk nasib pendidikannya kelak. Salah satunya dari Yayasan Panti Asuhan Muhammadiyah. “Pernah ada Panti Sosial Anak Muhammadiyah datang orangtua asuh yang mencari anak asuh, nanti coba saya konfirmasikan,” papar Kasja dari Panti Asuhan Sosial Muhammadiyah.(rst)
















