CIBOGO-Sebagai gedung BUMN pertama yang mendapat sertifikat Greenship sekalius meraih poin tertinggi sehingga mendapat penghargaan Platinum, Kantor Manajemen Pusat (Kampus) PT Dahana tak ingin terlena dengan raihan tersebut. Sebagaimana diutarakan Tato Dirgantoro selaku Direktur Utama (Dirut) PT Dahana, jangan sampai setelah mencapai Green New Building, PT Dahana langsung mencapai Existing Grey Building (konsep tak ramah lingkungan, red).
“Lalu apa langkah selanjutnya jika capaian Green (ramah lingkungan, red) sudah kita raih. Jangan sampai kita malah jadi Existing Grey Building,” paparnya di hadapan Menristek, Gusti Muhammad Hatta, saat datang berkunjung ke PT Dahana Subang dalam rangka meninjau proyek Energetic Material Center (EMC ) dan menghadiri penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Dahana dengan Lapan dan PT Dahana dengan BPPT, kemarin (20/01).
Sertifikat Greenship yang diserahkan Green Building Council Indonsia (BCI) selaku tim penilai menyatakan PT Dahan sudah memeunuhi konsep standar Green Concept, seperti standar tahan gempa, keamanan untuk kebakaran gedung, aksesbiitas penyandang cacat. Adapun fasilitas penDukung Green Concept sebagaimana dilanxir GBCI adalah Land Efficient, Energy Efficient, Water Local&environment friendly material, dan healthy indoor air.
PT Dahana sebagai BUMN yang bergerak di bidang Energetic Material (bahan berenergi tinggi) saat ini tengah mengembangkan proyek isian untuk peluncur roket. Pengembangan teknologinya dirancang di sebuah tempat bernama Energetic Material Center (EMC) yang berlokasi di Desa Sadawarna Kecamatan Cibogo. Oleh karenanya, PT Dahana tak ingin dengan proyek bahan energi tersebut malah menjadi sarana merusak alam dan tak ramah pada lingkungan.
Menristek sendiri mengaku takjub dengan konsep yang dikembangkan PT Dahana. Karena perusahaan yang bergerak dalam bidang energi dan produksi bahan peledak yang berpotensi merusak alam malah dikembangkan dengan konsep ramah lingkungan. “Ini saya salut dan patut kita dukung PT Dahana bisa mempertahankan keserasian alam dengan tetap menghasilkan produksi bahan peledak,” jelasnya di Gedung Aula EMC PT Dahana Subang yang berdiri di area seluas 595.4 Hektar tersebut.
Beliau juga mendukung sejumlah kerja sama yang dilakukan PT Dahana dengan sejumlah perusahaan BUMN dalam rangka pengembangan teknologi produksi bahan peledak yang berkualitas. Kerja sama tesebut juga diharapkan bisa saling melengkapi dan mendukung produksi ketahanan nasional. Di antara kerja sama yang dilakukan PT Dahana dengan LAPAN misalnya meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan, pemanfaatan data dan informasi teknologi peroketan.(rst)


















