Mengunjungi Museum für Völkerkunde, Museum Etnologi Terbesar di Eropa (1)
Museum für Völkerkunde di kota Wina bisa dibilang paling menarik di Austria. Di museum etnologi itu, terdapat belasan ribu benda budaya Indonesia. Seperti apa museum di distrik 1 ibu kota Austria itu?
Ahmad Reza Khomaini, Wina – Austria
KAMIS (16/2) lalu, penulis mendapat kehormatan secara khusus mengunjungi salah satu museum etnologi terbesar di Eropa. Kebetulan, salah satu staf di museum tersebut dari Indonesia. Dia adalah Dr. Habil. Jani Kuhnt-Saptodewo. Wanita kelahiran Jakarta 17 Mei 1952 ini menjabat Head of Insular Southeast Asian Collections. Dia menaungi sedikitnya 20 ribu koleksi kebudayaan dari negara-negara kepulauan Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Timor Leste, Singapura, dan Indonesia.
Menariknya, dari 20 ribu koleksi tersebut, 14 ribu item di antaranya dari tanah air. Jumlah koleksi yang tergolong tidak sedikit untuk sebuah museum di benua Eropa. Total koleksi kebudayaan suku bangsa di museum yang berdiri sejak 1876 ini mencapai 250 ribu. Tak hanya dari Asia. Benda-benda kebudayaan dari benua Afrika, Oseana, dan Amerika juga melengkapi koleksi museum bernama Museum für Völkerkunde tersebut. Lokasi museum yang berdesain romawi kuno ini sangat strategis. Museum ini berada di samping istana Hofburg atau Kepresidenan Austria.
Untuk masuk, pengunjung harus merogoh kocek Euro 10 atau sekitar Rp 120 ribu. Di dalam gedung berlantai 3 itu, para pengunjung bisa menikmati koleksi dari berbagai kebudayaan dunia. Pada hari itu, Museum für Völkerkunde menyajikan pameran seputar kebudayaan suku Naga, masyarakat India timur. Dalam pameran tersebut, terselip benda-benda kebudayaan Indonesia seperti topeng dan keris Bali.
Menurut Jani Kuhnt-Saptodewo, dalam setiap pameran pihak museum selalu memberikan pengetahuan tambahan bagi para pengunjung dengan memamerkan koleksi-koleksi dari negara-negara lain. ’’Jadi tidak hanya seputar kebudayaan masyarakat Naga. Tapi ada juga dari Indonesia, Amerika Latin, dan negara Asia lainnya,’’ tutur wanita yang sejak 2005 bekerja di museum etnologi tersebut kepada INDOPOS. Di ruangannya yang terletak di lantai atas, Jani bercerita seputar sejarah singkat tentang koleksi yang dimiliki museum ini.
Semuanya, terang Jani, berawal pada abad ke-18. Saat itu, pangeran Franz Ferdinand yang menjadi penguasa kerajaan Hungaria-Austria sering berlayar ke negara-negara di luar Eropa. Dalam setiap kunjungannya, sang pangeran tak pernah lupa membawa pernak-pernik kebudayaan setempat. ’’Selain membeli langsung di negara yang disinggahi, ada juga benda-benda kebudayaan yang merupakan pemberian dari para sahabat kerajaan,’’ terang Jani.
Koleksi-koleksi yang dimiliki beragam. Mulai pakaian, alat-alat perkebunan, senjata tajam, perhiasan, kesenian, hingga kerajinan tangan khas dari kebudayaan negara. ’’Jadi segala benda kebudayaan suku bangsa sebuah negara, tentunya non Eropa, menjadi koleksi kami di museum ini,’’ kata wanita yang pernah mengajar di Universitas Passau, Munich, Jerman, itu.
Mengenai koleksi kebudayaan Indonesia, Jani menuturkan, keragaman budaya tanah air cukup diminati. Tak heran jika jumlah benda asal Indonesia yang dimiliki museum etnologi di Wina ini begitu besar, yakni sekitar 14 ribu item. ’’Benda-benda budaya dari Indonesia termasuk paling banyak. Mulai kerajinan tangan, pakaian adat, kesenian, senjata tradisional, hingga mainan anak seperti Dakon juga kami miliki,’’ ucapnya.
Dikatakan Jani, pihaknya memiliki beberapa koleksi tertua asal Indonesia, seperti wayang dan keris. Menurut catatan, kedua benda kebudayaan tanah air itu dibuat pada abad ke-17. Sementara koleksi termudanya didominasi pakaian pengantin dari berbagai macam suku di Indonesia. ’’Kalau pakaian pengantin kami beli yang buatan tahun 70-an. Semuanya lengkap satu set. Ada pakaian adat nikah dari Betawi, Sunda, Jawa, Bugis, Palembang, dan Lampung,’’ jelas Jani.(ind/ca)

















