HAURWANGI-Masjid Nurhidayah milik jamaah Ahmadiyah di Jalan Raya Ciranjang Kampung Cisaar RT 01/RW 08 Desa Cipeuyeum Kecamatan Haurwangi, dirusak sekitar 200 orang warga, kemarin (17/2). Diduga, motif pengrusakan tersebut terjadi karena warga kesal, penganut Ahmadiyah masih beraktivitas meski sudah dilarang.
Berdasarkan informasi, pengrusakan berlangsung sekitar pukul 08.00 WIB. Secara spontan, warga yang jumlahnya diperkirakan mencapai 200 orang itu terlebih dahulu meruntuhkan dinding benteng bagian belakang masjid. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
Bangunan masjid mengalami rusak berat. Hampir seluruh genteng hancur dilempari batu. Kaca-kaca jendela dan pintu pecah. Serta bagian dalam masjid juga ikut dihancurkan.
"Kejadiannya begitu cepat. Saat itu saya sedang di dalam rumah menunggui cucu. Sempat terdengar suara ribut dari arah belakang masjid, dan ada yang melempar genteng dengan batu. Tak lama, terdengar suara dinding benteng belakang ambruk. Setelah itu suasana gaduh," kata Hasan (63), petugas penunggu masjid.
Hasan mengaku, memilih mengambil langkah seribu bersama cucunya begitu mengetahui ada ratusan warga yang merusak masjid. "Kalau saya terus berada di sana, ada kemungkinan diamuk massa. Jadi saya memilih kabur saja," ujar Hasan.
Sebelum terjadi peristiwa pengrusakan Masjid Nurhidayah, Kapolres Cianjur AKBP Agus Tri Heriyanto berencana datang untuk mengingatkan kembali kesepakatan sesuai Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri. Namun, sebelum Kapolres Cianjur datang, masjid tersebut sudah hancur dirusak massa.
"Hari ini kami memang berencana mendatangi masjid Ahmadiyah tersebut. Selain untuk bersilaturahmi, kami juga menyosialisasikan kembali SKB Tiga Menteri. Namun, sebelum kami datang masjid tersebut sudah hancur dirusak massa," ujar Agus.
Menurut Agus, kasus pengrusakan masjid tersebut kini ditangani Polres Cianjur. "Kami masih memintai keterangan saksi-saksi yang menyaksikan peristiwa pengrusakan tersebut," kata Agus.
Pascaperistiwa pengrusakan Masjid Nurhidayah, polisi masih berjaga-jaga di lokasi kejadian. Penjagaan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan susulan.
Selain kepolisian, jajaran TNI di Kodim 0608 Cianjur meningkatkan pengawasan di titik-titik lokasi pemukiman warga Ahmadiyah. Selain melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian, TNI melakukan pengawasan secara intelijen untuk mengantisipasi rembetan kejadian di lokasi lain.
"Fungsi keamanan dan pengamanan sudah dilakukan pihak kepolisian. Kami lebih meningkatkan pengawasan di bidang intelijen untuk mengantisipasi sejumlah titik yang ada pemukiman Ahmadiyah," ujar Dandim 0608 Cianjur, Letkol Inf Andi Perdana Kahar.
Andi menjelaskan, selama ini pihaknya terus melakukan pemantauan di lokasi Ahmadiyah. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda pergerakan massa yang menjurus pada aksi kekerasan. "Peristiwa di Cipeuyeum merupakan aksi spontan yang sebelumnya terpendam karena kekesalan warga sekitar lokasi masjid," kata Andi.(daz)

















